REVIEW
APLIKASI BERBASIS WEB UNTUK PEMBELIAN TUNAI DAN KREDIT (STUDI KASUS PADA KOPERASI KELUARGA BESAR DINAS PENDAPATAN DAERAH (KKBD) PROVINSI JAWA BARAT UNIT BANDUNG)
Oleh
Melisa Rachel Hutagalung
TINJAUAN PUSTAKA
NAMA : SHINTIA EFRIYANI
NPM : 26211751
2. Tinjauan
Pustaka
2.1
Definisi Dan Prinsip Akuntansi
Definisi akuntansi dapat dirumuskan dari dua sudut
pandang, yaitu definisi dari sudut pemakai jasa akuntansi, dan dari sudut
proses kegiatannya. Definisi dari sudut pemakai
Menurut Jusup (2003:4) .diitinjau dari pemakaiannya,
akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin yang menyediakan informasi
yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi
kegiatan-kegiatan suatu organisasi.
Definisi dari sudut proses kegiatan Menurut Jusup
(2003:5) apabila ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi dapat didefinisikan
sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan
penganalisaan data keuangan suatu organisasi.
Jadi, akuntansi adalah proses mengenali, mengukur,
dan mengkomunikasikan informasi ekonomi untuk memperoleh pertimbangan dan
keputusan yang tepat oleh pemakai informasi yang bersangkutan.
2.2
Prinsip Akuntansi
Selain penerapan
asumsi-asumsi dasar dalam praktek akuntansi, terdapat juga beberapa prinsip-prinsip
yang perlu diperhatikan dan diterapkan.
Menurut Suhayati dan
Anggadini (2009:6) prinsip-prinsip akuntansi adalah:
1.
Kontinuitas Usaha (Going Concern)
Konsep
ini mengatakan bahwa suatu perusahaan akan beroperasi secara terus-menerus
melakukan kegiatan, meskipun kenyataan banyak perusahaan yang gagal setelah
baru saja didirikan. Konsep ini memberikan alasan penggunaan beban historis sebagai
dasar utama untuk melakukan pengakuan akuntansi.
2.
Kesatuan Usaha (Business Entity)
Konsep
ini mengatakan bahwa suatu perusahaan merupakan suatu kesatuan yang berdiri
terpisah dari para pemilik.
3. Periode
Akuntansi (Accounting Period)
Suatu
cara yang paling baik untuk mengukur hasil-hasil yang diperoleh perusahaan
seperti periode tahunan.
4. Kesatuan
Pengukuran (Measurement Unit)
Hasil
akhir dari akuntansi adalah laporan keuangan perusahaan yang nantinya
disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
5. Pengukuran
Berdasarkan Nilai Historis (Historical Cost Measurement)
Akuntansi
sebagaimana yang dipraktekan sekarang ini didasarkan atas prinsip nilai
historis.
6. Bukti
yang Objektif (Objective Evidence)
Informasi
yang tercantum di dalam laporan keuangan harus didasarkan atas suatu fakta yang
dapat dibuktikan kebenarannya serta bersifat\objektif.
7. Pengungkapan
Sepenuhnya (Full Disclosure)
Semua
laporan keuangan dan semua informasi yang mempunyai pengaruh terhadap laporan
keuangan harus diungkapakan secara jelas.
8. Konsisten
(Consistency)
Penerapan
yang sama atas prinsip, prosedur, dan metode-metode akuntansi di setiap periode
akuntansi, sehingga laporan keuangan dari berbagai periode dapat
diperbandingkan.
9. Hati-Hati/Waspada
(Conservation)
Konsep
ini didasarkan atas suatu pendapat yang menyatakan bahwa setiap pendapatan tidak
boleh diakui dan dicatat sebelum pendapatan tersebut benar-benar diperoleh,
tetapi semua kerugian dan beban walaupun belum terjadi asalkan sudah dapat diperhitungkan
boleh dicatat dan diakui.
10. Nilai
yang Cukup Penting (Materiality)
Ukuran
materiality atas perusahaan tidaklah sama, hal ini tergantung pada
besar-kecilnya perusahaan dan kebijakan yang berlaku didalamnya.
11. Matching
Expense with Revenue
Untuk
mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai oleh suatu perusahaan, maka
total pendapatan dikurangkan dengan beban perusahaan dalam suatu periode
akuntansi.
12. Pengakuan
Pendapatan (Revenue Recognation)
Pada
umumnya pendapatan diakui pada saat:
a. Menerima
uang (Cash Basic)
b. Terjadinya
transaksi/ tidak secara tunai (Accrual Basis)
c. Terjadinya
penjualan (Sales basis)
2.3
Koperasi
Berbeda dengan perusahaan komersial, khususnya
perseroan terbatas dan firma yang didirikan oleh orang-orang yang memiliki
modal cukup besar untuk memulai usaha, koperasi biasanya didirikan oleh
sekumpulan orang dengan modal kurang.
Menurut Rudianto (2010:3) secara umum koperasi
diartikan sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri
untuk berjuang meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan
sebuah badan usaha yang dikelola secara demokratis.
Sedangkan menurut pasal 1 UU No.25/1992 yang
dimaksud dengan koperasi di Indonesia adalah badan usaha yang beranggotakan
orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya pada
prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas
kekeluargaan.
Sebagai salah satu pelaku ekonomi, koperasi
merupakan organisasi ekonomi yang berusaha menggerakkan potensi sumber daya
ekonomi demi memajukan kesejahteraan anggota. Karena sumber daya
ekonomi tersebut terbatas dan dalam mengembangkan koperasi harus
mengutamakan kepentingan anggota, maka koperasi harus mampu bekerja
seefisien mungkin dan mengikuti prinsipprinsip koperasi dan
kaidah-kaidah ekonomi.
2.4
Sistem Akuntansi Pembelian
Menurut Nurul (2010:10) pembelian adalah usaha
pengadaan barang-barang untuk perusahaan. Dalam perusahaan dagang,
pembelian dilakukan dengan dijual kembali tanpa mengadakan perubahan bentuk
barang, sedangkan pada perusahaan manufaktur pembelian dilakukan dengan
merubah bentuk barang.
Pembelian
terbagi dalam dua cara yaitu:
Ø Pembelian
Tunai
Pembelian barang secara langsung kepada pemasok
dengan pembayaran secara langsung pada saat itu juga.
Ø Pembelian
Kredit
Pembelian barang secara langsung kepada pemasok
barang dengan pembayaran tidak langsung, melainkan berangsur sesuai dengan
kesepakatan bersama.
Siklus pembelian mencakup fungsi-fungsi yang diperlukan
untuk memperoleh barang dan jasa yang dipergunakan oleh perusahaan. Di dalam
siklus pembelian terdapat:
·
Prosedur dan subsistem pembelian barang persediaan
yang akan dijual kembali atau diproduksi.
·
Prosedur dan subsistem pembelian aktiva
tetap yang tidak dimaksudkan untuk dijual kembali.
Sistem
akuntansi pembelian merupakan prosedur atau metode pembelian barang yang
dibutuhkan oleh perusahaan.
Sistem
pembelian meliputi beberapa prosedur diantaranya:
ü Permintaan
pembelian
ü Penawaran
harga
ü Penerimaan
barang
ü Pencatatan
utang
ü Pencatatan
persediaan
Untuk
menjalankan sistem tersebut, perusahaan melibatkan beberapa bagian atau unit
seperti bagian gudang, pembelian, penerimaan, dan akuntansi. Catatan yang
berhubungan dengan pembelian meliputi jurnal pembelian, jurnal umum, rekening buku
besar, dan buku pembantu utang.
Apabila perusahaan menggunakan metode persediaan
periodik, maka pembelian barang-barang untuk dijual kembali (barang dagang)
dicatat dengan mendebet rekening pembelian. Rekening pembelian merupakan sebuah
rekening sementara yang digunakan untuk mengumpulkan seluruh harga pokok barang
yang dibeli selama periode, sehingga pada tiap akhir periode rekening ini harus
ditutup. Rekening pembelian hanya digunakan untuk mencatat pembelian barang
dagangan untuk dijual kembali. Apabila perusahaan membeli barangbarang untuk digunakan
sendiri dalam operasi perusahaan, seperti misalnya membeli peralatan kantor atau
mebel untuk digunakan sendiri, maka yang didebet adalah rekening aktiva yang bersangkutan,
bukan rekening pembelian. Berbeda dengan metode periodik, metode perpetual
mencatat akun persediaan barang dagang setiap terjadi transaksi pembelian dan
penjualan barang dagangan.
Dengan metode perpetual ini, maka saldo persediaan
barang dagang selalu dapat diketahui. Juga metode perpetual mencatat akun harga
pokok penjualan (HPP) setiap terjadi transaksi penjualan barang dagangan.
Besarnya harga pokok penjualan ditentukan berdasarkan nilai pembelian bersih.
Oleh karenanya, pada akhir periode perusahaan tidak perlu melakukan pencatatan
jurnal penyesuaian untuk akun persediaan barang dagang dan akun harga pokok
penjualan.
A. Retur
dan Potongan Pembelian
Menurut Jusup (2009:337) apabila barang dagangan
yang dibeli dari pemasok rusak atau kondisinya tidak memuaskan, maka biasanya pembeli
mengembalikan barang tersebut yang disebut retur pembelian dan utang kepada pemasok
menjadi berkurang.
Menurut Jusup (2009:337) potongan pembelian
merupakan potongan yang diberikan oleh pihak supplier karena adanya retur pembelian.
B. Potongan
Tunai Pembelian
Menurut Jusup (2009: 339) potongan tunai pembelian
adalah potongan yang diterima karena pembeli membayar dalam waktu yang telah
ditentukan dalam syarat pembelian.
Apabila jangka waktu kredit yang diberikan cukup
panjang, perusahaan biasanya menawarkan potongan tunai untuk merangsang agar pembeli
mau membayar secepatnya. Potongan tunai yang ditawarkan tercantum dalam faktur
dengan berbagai cara, misalnya 2/10, n/30 yang artinya pembeli dimungkinkan untuk
(1) mendapat potongan 2% dari harga faktur bruto, jika pembayaran dilakukan
dalam waktu 10 hari sesudah tanggal faktur, atau (2) menunda dan membayar penuh
seluruh harga faktur bruto pada setiap waktu yang dikehendaki sesudah lewat 10
hari, tetapi tidak melewati 30 hari sejak tanggal faktur. Syarat yang lain dinyatakan
dengan simbol 2/EOM, n/60 yang artinya bahwa pembeli dimungkinkan untuk (1) mendapat
potongan 2% dari harga faktur bruto, jika ia membayar tidak melewati akhir
bulan, atau (2) menunda dan membayar penuh seluruh harga faktur bruto pada
setiap waktu yang dikehendaki setelah lewat akhir bulan, akan tetapi tidak lebih
dari 60 hari sejak tanggal faktur.
C. Biaya
Angkut Pembelian
Syarat-syarat penjualan harus menyebutkan kapan hak
kepemilikan atas barang dagang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli.
Hal ini menentukan pihak mana, penjual atau pembeli yang harus menanggung biaya
transportasi (ongkos angkut).
Menurut Reeve (2008: 279) FOB (Free On Board)
shipping point adalah pembeli menanggung biaya transportasi bila
syarat pengiriman adalah FOB tempat pengiriman.
Menurut Reeve (2008: 279) FOB (Free On Board)
destination point adalah penjual menanggung biaya transportasi bila
syarat pengiriman adalah FOB tempat tujuan.
D. Jurnal
Pembelian
Jurnal pembelian (Purchased Journal) berfungsi
untuk mencatat semua transaksi pembelian yang dilakukan secara tunai dan
kredit. Berikut adalah contoh dari beberapa jurnal yang terjadi pada saat
transaksi pembelian: Menurut Jusup (2009:337) contoh jurnal pembelian secara
kredit dengan menggunakan metode periodik adalah sebagai berikut:
Tabel
2.1
Jurnal
Pembelian Kredit Menggunakan Metode Periodik
2. Tinjauan
Pustaka
2.1
Definisi Dan Prinsip Akuntansi
Definisi akuntansi dapat dirumuskan dari dua sudut
pandang, yaitu definisi dari sudut pemakai jasa akuntansi, dan dari sudut
proses kegiatannya. Definisi dari sudut pemakai
Menurut Jusup (2003:4) .diitinjau dari pemakaiannya,
akuntansi dapat didefinisikan sebagai suatu disiplin yang menyediakan informasi
yang diperlukan untuk melaksanakan kegiatan secara efisien dan mengevaluasi
kegiatan-kegiatan suatu organisasi.
Definisi dari sudut proses kegiatan Menurut Jusup
(2003:5) apabila ditinjau dari sudut kegiatannya, akuntansi dapat didefinisikan
sebagai proses pencatatan, penggolongan, peringkasan, pelaporan, dan
penganalisaan data keuangan suatu organisasi.
Jadi, akuntansi adalah proses mengenali, mengukur,
dan mengkomunikasikan informasi ekonomi untuk memperoleh pertimbangan dan
keputusan yang tepat oleh pemakai informasi yang bersangkutan.
2.2
Prinsip Akuntansi
Selain penerapan
asumsi-asumsi dasar dalam praktek akuntansi, terdapat juga beberapa prinsip-prinsip
yang perlu diperhatikan dan diterapkan.
Menurut Suhayati dan
Anggadini (2009:6) prinsip-prinsip akuntansi adalah:
1.
Kontinuitas Usaha (Going Concern)
Konsep
ini mengatakan bahwa suatu perusahaan akan beroperasi secara terus-menerus
melakukan kegiatan, meskipun kenyataan banyak perusahaan yang gagal setelah
baru saja didirikan. Konsep ini memberikan alasan penggunaan beban historis sebagai
dasar utama untuk melakukan pengakuan akuntansi.
2.
Kesatuan Usaha (Business Entity)
Konsep
ini mengatakan bahwa suatu perusahaan merupakan suatu kesatuan yang berdiri
terpisah dari para pemilik.
3. Periode
Akuntansi (Accounting Period)
Suatu
cara yang paling baik untuk mengukur hasil-hasil yang diperoleh perusahaan
seperti periode tahunan.
4. Kesatuan
Pengukuran (Measurement Unit)
Hasil
akhir dari akuntansi adalah laporan keuangan perusahaan yang nantinya
disampaikan kepada pihak yang berkepentingan.
5. Pengukuran
Berdasarkan Nilai Historis (Historical Cost Measurement)
Akuntansi
sebagaimana yang dipraktekan sekarang ini didasarkan atas prinsip nilai
historis.
6. Bukti
yang Objektif (Objective Evidence)
Informasi
yang tercantum di dalam laporan keuangan harus didasarkan atas suatu fakta yang
dapat dibuktikan kebenarannya serta bersifat\objektif.
7. Pengungkapan
Sepenuhnya (Full Disclosure)
Semua
laporan keuangan dan semua informasi yang mempunyai pengaruh terhadap laporan
keuangan harus diungkapakan secara jelas.
8. Konsisten
(Consistency)
Penerapan
yang sama atas prinsip, prosedur, dan metode-metode akuntansi di setiap periode
akuntansi, sehingga laporan keuangan dari berbagai periode dapat
diperbandingkan.
9. Hati-Hati/Waspada
(Conservation)
Konsep
ini didasarkan atas suatu pendapat yang menyatakan bahwa setiap pendapatan tidak
boleh diakui dan dicatat sebelum pendapatan tersebut benar-benar diperoleh,
tetapi semua kerugian dan beban walaupun belum terjadi asalkan sudah dapat diperhitungkan
boleh dicatat dan diakui.
10. Nilai
yang Cukup Penting (Materiality)
Ukuran
materiality atas perusahaan tidaklah sama, hal ini tergantung pada
besar-kecilnya perusahaan dan kebijakan yang berlaku didalamnya.
11. Matching
Expense with Revenue
Untuk
mengetahui seberapa jauh hasil yang telah dicapai oleh suatu perusahaan, maka
total pendapatan dikurangkan dengan beban perusahaan dalam suatu periode
akuntansi.
12. Pengakuan
Pendapatan (Revenue Recognation)
Pada
umumnya pendapatan diakui pada saat:
a. Menerima
uang (Cash Basic)
b. Terjadinya
transaksi/ tidak secara tunai (Accrual Basis)
c. Terjadinya
penjualan (Sales basis)
2.3
Koperasi
Berbeda dengan perusahaan komersial, khususnya
perseroan terbatas dan firma yang didirikan oleh orang-orang yang memiliki
modal cukup besar untuk memulai usaha, koperasi biasanya didirikan oleh
sekumpulan orang dengan modal kurang.
Menurut Rudianto (2010:3) secara umum koperasi
diartikan sebagai perkumpulan orang yang secara sukarela mempersatukan diri
untuk berjuang meningkatkan kesejahteraan ekonomi mereka melalui pembentukan
sebuah badan usaha yang dikelola secara demokratis.
Sedangkan menurut pasal 1 UU No.25/1992 yang
dimaksud dengan koperasi di Indonesia adalah badan usaha yang beranggotakan
orang-orang atau badan hukum koperasi dengan melandaskan kegiatannya pada
prinsip koperasi sekaligus sebagai gerakan ekonomi rakyat yang berdasarkan asas
kekeluargaan.
Sebagai salah satu pelaku ekonomi, koperasi
merupakan organisasi ekonomi yang berusaha menggerakkan potensi sumber daya
ekonomi demi memajukan kesejahteraan anggota. Karena sumber daya
ekonomi tersebut terbatas dan dalam mengembangkan koperasi harus
mengutamakan kepentingan anggota, maka koperasi harus mampu bekerja
seefisien mungkin dan mengikuti prinsipprinsip koperasi dan
kaidah-kaidah ekonomi.
2.4
Sistem Akuntansi Pembelian
Menurut Nurul (2010:10) pembelian adalah usaha
pengadaan barang-barang untuk perusahaan. Dalam perusahaan dagang,
pembelian dilakukan dengan dijual kembali tanpa mengadakan perubahan bentuk
barang, sedangkan pada perusahaan manufaktur pembelian dilakukan dengan
merubah bentuk barang.
Pembelian
terbagi dalam dua cara yaitu:
Ø Pembelian
Tunai
Pembelian barang secara langsung kepada pemasok
dengan pembayaran secara langsung pada saat itu juga.
Ø Pembelian
Kredit
Pembelian barang secara langsung kepada pemasok
barang dengan pembayaran tidak langsung, melainkan berangsur sesuai dengan
kesepakatan bersama.
Siklus pembelian mencakup fungsi-fungsi yang diperlukan
untuk memperoleh barang dan jasa yang dipergunakan oleh perusahaan. Di dalam
siklus pembelian terdapat:
·
Prosedur dan subsistem pembelian barang persediaan
yang akan dijual kembali atau diproduksi.
·
Prosedur dan subsistem pembelian aktiva
tetap yang tidak dimaksudkan untuk dijual kembali.
Sistem
akuntansi pembelian merupakan prosedur atau metode pembelian barang yang
dibutuhkan oleh perusahaan.
Sistem
pembelian meliputi beberapa prosedur diantaranya:
ü Permintaan
pembelian
ü Penawaran
harga
ü Penerimaan
barang
ü Pencatatan
utang
ü Pencatatan
persediaan
Untuk
menjalankan sistem tersebut, perusahaan melibatkan beberapa bagian atau unit
seperti bagian gudang, pembelian, penerimaan, dan akuntansi. Catatan yang
berhubungan dengan pembelian meliputi jurnal pembelian, jurnal umum, rekening buku
besar, dan buku pembantu utang.
Apabila perusahaan menggunakan metode persediaan
periodik, maka pembelian barang-barang untuk dijual kembali (barang dagang)
dicatat dengan mendebet rekening pembelian. Rekening pembelian merupakan sebuah
rekening sementara yang digunakan untuk mengumpulkan seluruh harga pokok barang
yang dibeli selama periode, sehingga pada tiap akhir periode rekening ini harus
ditutup. Rekening pembelian hanya digunakan untuk mencatat pembelian barang
dagangan untuk dijual kembali. Apabila perusahaan membeli barangbarang untuk digunakan
sendiri dalam operasi perusahaan, seperti misalnya membeli peralatan kantor atau
mebel untuk digunakan sendiri, maka yang didebet adalah rekening aktiva yang bersangkutan,
bukan rekening pembelian. Berbeda dengan metode periodik, metode perpetual
mencatat akun persediaan barang dagang setiap terjadi transaksi pembelian dan
penjualan barang dagangan.
Dengan metode perpetual ini, maka saldo persediaan
barang dagang selalu dapat diketahui. Juga metode perpetual mencatat akun harga
pokok penjualan (HPP) setiap terjadi transaksi penjualan barang dagangan.
Besarnya harga pokok penjualan ditentukan berdasarkan nilai pembelian bersih.
Oleh karenanya, pada akhir periode perusahaan tidak perlu melakukan pencatatan
jurnal penyesuaian untuk akun persediaan barang dagang dan akun harga pokok
penjualan.
A. Retur
dan Potongan Pembelian
Menurut Jusup (2009:337) apabila barang dagangan
yang dibeli dari pemasok rusak atau kondisinya tidak memuaskan, maka biasanya pembeli
mengembalikan barang tersebut yang disebut retur pembelian dan utang kepada pemasok
menjadi berkurang.
Menurut Jusup (2009:337) potongan pembelian
merupakan potongan yang diberikan oleh pihak supplier karena adanya retur pembelian.
B. Potongan
Tunai Pembelian
Menurut Jusup (2009: 339) potongan tunai pembelian
adalah potongan yang diterima karena pembeli membayar dalam waktu yang telah
ditentukan dalam syarat pembelian.
Apabila jangka waktu kredit yang diberikan cukup
panjang, perusahaan biasanya menawarkan potongan tunai untuk merangsang agar pembeli
mau membayar secepatnya. Potongan tunai yang ditawarkan tercantum dalam faktur
dengan berbagai cara, misalnya 2/10, n/30 yang artinya pembeli dimungkinkan untuk
(1) mendapat potongan 2% dari harga faktur bruto, jika pembayaran dilakukan
dalam waktu 10 hari sesudah tanggal faktur, atau (2) menunda dan membayar penuh
seluruh harga faktur bruto pada setiap waktu yang dikehendaki sesudah lewat 10
hari, tetapi tidak melewati 30 hari sejak tanggal faktur. Syarat yang lain dinyatakan
dengan simbol 2/EOM, n/60 yang artinya bahwa pembeli dimungkinkan untuk (1) mendapat
potongan 2% dari harga faktur bruto, jika ia membayar tidak melewati akhir
bulan, atau (2) menunda dan membayar penuh seluruh harga faktur bruto pada
setiap waktu yang dikehendaki setelah lewat akhir bulan, akan tetapi tidak lebih
dari 60 hari sejak tanggal faktur.
C. Biaya
Angkut Pembelian
Syarat-syarat penjualan harus menyebutkan kapan hak
kepemilikan atas barang dagang tersebut beralih dari penjual kepada pembeli.
Hal ini menentukan pihak mana, penjual atau pembeli yang harus menanggung biaya
transportasi (ongkos angkut).
Menurut Reeve (2008: 279) FOB (Free On Board)
shipping point adalah pembeli menanggung biaya transportasi bila
syarat pengiriman adalah FOB tempat pengiriman.
Menurut Reeve (2008: 279) FOB (Free On Board)
destination point adalah penjual menanggung biaya transportasi bila
syarat pengiriman adalah FOB tempat tujuan.
D. Jurnal
Pembelian
Jurnal pembelian (Purchased Journal) berfungsi
untuk mencatat semua transaksi pembelian yang dilakukan secara tunai dan
kredit.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar