Harapan Untuk Masa Depan Bangsa Indonesia
Dalam
ukuran materi kondisi rakyat kita antara tahun 1945 dan 1950 masih lebih buruk
dari pada sekarang. Akan tetapi pada waktu itu kesengsaraan bersifat umum dan
selain itu diimbangi dengan semangat perjuangan yang menggelora di antara
bagian terbesar bangsa. Mungkin pada waktu itu juga sudah ada KKN, tetapi
ukurannya amat terbatas sehingga tidak berpengaruh terhadap kondisi bangsa pada
umumnya. Bangsa Indonesia bersatu dalam perjuangan untuk membela kemerdekaan yang
baru diraih, menghadapi kaum penjajah yang hendak menguasai kita kembali.
Reformasi
yang membangun kehidupan demokrasi berkembang tanpa dapat membatasi kebebasan
yang berlebihan. Akibatnya adalah bahwa semua mengejar kepentingannya
sendiri-sendiri tanpa mengacuhkan aturan dan ketentuan, tidak peduli terhadap
kepentingan umum. Individualisme dan egoisme yang kasar itu terutama nampak
jelas dalam kondisi lalu lintas, terutama di kota-kota. Pokoknya masing-masing
mau menang dan untung sendiri, tidak penting bagaimana akibat dan dampaknya
bagi masyarakat. Disiplin sosial dan nasional yang sebelum Reformasi sudah
kurang memuaskan justru makin rendah dan buruk sejak Reformasi. Tampaknya kaum
pimpinan atau elit bangsa yang begitu gemar dalam demokratisasi bangsa tidak
atau tidak mau menyadari bahwa tidak mungkin ada demokrasi yang benar tanpa ada
disiplin dan kekuasaan hukum serta peraturan. Buktinya, tidak ada pimpinan yang
sanggup maju untuk memperbaiki keadaan yang makin parah itu. Padahal kekuasaan
hukum dan disiplin tidak hanya penting untuk demokrasi, tetapi juga penting
sekali untuk memperbaiki ekonomi yang parah dan kondisi sosial yang sedang
ditimpa macam-macam persoalan, seperti pertentangan etnik dan kurang serasinya
hubungan umat beragama dan lainnya.
Padahal
di samping bangsa Indonesia harus mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada dalam
tubuhnya sendiri, tantangan yang datang dari luar makin hebat. Seperti
globalisasi dengan segala aspeknya, perilaku dan sikap hegemonik AS sebagai
satu-satunya adikuasa, makin berkembangnya teknologi komunikasi dalam bentuk
Internet, dan lainnya.
KEPEMIMPINAN
ADALAH KUNCI PERBAIKAN
Sejak
Reformasi bangsa Indonesia sudah mengalami tiga pemerintahan dengan tiga
Presiden yang berbeda. Setiap kali ada pemerintah baru, setiap kali pula
seluruh bangsa mempunyai harapan bahwa akan terjadi perbaikan. Terutama ketika
Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI pertama yang benar-benar terpilih sesuai
dengan UUD 1945. Akan tetapi kemudian selalu bangsa mengalami kekecewaan karena
terbukti pemerintah yang diharapkan membawa perbaikan, tidak menghasilkan yang
berarti dan malahan memperluas KKN dan merusak suasana bangsa.
Pertama,
kepemimpinan itu harus bersifat tegas. Tegas terhadap semua pihak dan terutama
terhadap dirinya sendiri bahwa ia bertekad membawa Indonesia maju dan
sejahtera. Ketegasan itu diperlukan untuk menegaskan bahwa harus ada disiplin
dalam kehidupan, bahwa hukum harus berlaku di Indonesia. Itu berlaku untuk
semua pihak, terutama bagi kalangan pemimpin dan lingkungannya serta
keluarganya sehingga menjadi tauladan bagi pihak lain. Memang harus ada
kebebasan dalam kehidupan, tetapi kebebasan itu bukannya tanpa batas dan tetap
menjamin tertib dan damainya masyarakat.
Kedua,
kepemimpinan harus ada keberanian moril dan fisik. Keberanian itu diperlukan
untuk menetapkan hal-hal yang perlu terjadi, seperti pemberantasan KKN. Karena
tidak mustahil banyak pihak akan terganggu kepentingannya dan melawan tindakan
perbaikan itu, maka keberanian moril dan fisik itu penting sekali. Juga
keberanian itu diperlukan untuk mengeluarkan ketentuan atau peraturan yang
tidak populer tetapi dianggap perlu untuk jangka panjang kehidupan.
Ketiga,
kepemimpinan harus konsisten dalam segala sepak terjangnya. Hanya dengan sikap
konsisten itu dapat direbut kepercayaan rakyat banyak. Tidak mungkin menyerukan
untuk hidup sederhana kalau dirinya dan lingkungannya selalu hidup mewah. Tidak
mungkin membawa masyarakat berdisiplin kalau dirinya dan lingkungannya
diketahui suka melanggar disiplin dan aturan. Sikap konsisten ini yang lambat
laun akan membawa suasana baru di Indonesia, yaitu meninggalkan suasana di mana
orang bergelut sendiri-sendiri untuk meraih kekayaan sebanyak mungkin, menjadi
suasana masyarakat yang hidup teratur dalam kebersamaan yang harmonis.
MENGHADAPI
KONDISI INTERNASIONAL YANG BERAT
Bangsa
Indonesia memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk dapat menghadapi perkembangan
internasional yang tidak mudah. Tanpa kepemimpinan yang kokoh Indonesia akan
menjadi bola permainan belaka dan tidak mustahil hanya akan menjadi negara
boneka dari negara yang kuat. Padahal dalam kondisi umat manusia dewasa ini
tidak mungkin satu bangsa mengisolasi diri, sebab isolasi justru berarti
kehancuran seperti yang dialami Myanmar. Sebab itu Indonesia harus mampu hidup
dan jaya dalam kondisi dunia yang amat dinamis dan penuh persaingan.
Pertama,
harus dapat menghadapi AS yang sekarang menjadi the single superpower atau
negara adikuasa baik dalam militer maupun ekonomi. AS secara terang-terangan
memainkan peran dan sikap hegemonik untuk menguasai dunia. Meskipun peran dan
sikap demikian sudah dimulai sejak ada Perang Dingin, tetapi setelah Perang
Dingin selesai perilakunya makin menjadi-jadi.
Kedua,
globalisasi menimbulkan banyak persoalan kepada semua bangsa, khususnya bangsa
yang sedang berkembang. Globalisasi sebagai salah satu proses evolusi umat
manusia yang disebabkan oleh perkembangan sains dan teknologi tidak dapat dihindarkan
oleh siapa saja. Akan tetapi kalau tidak pandai menghadapinya dapat
menghanyutkan Negara dan bangsa, apalagi AS memanfaatkan globalisasi untuk
kepentingan hegemoniknya dengan memanfaatkan peran Bank Dunia, IMF dan WTO atau
Organisasi Perdagangan Dunia yang semua dikuasainya. Untuk selamat dalam
globalisasi setiap bangsa harus dapat memperkuat identitasnya agar tidak
hanyut. Akan tetapi juga harus melakukan berbagai usaha untuk meraih kemahiran
dan penonjolan sehingga tidak tertinggal dalam perjalanan umat manusia.
Ketiga,
Indonesia harus menghadapi kenyataan makin berkembangnya komunikasi melalui
Internet. Sekarang setiap orang dengan menggunakan komputer dan Internet dapat
mengakses informasi dan pengetahuan apa saja dari seluruh dunia dan dilakukan
dalam waktu cepat. Juga di Indonesia hal ini terus berkembang. Sebab kalau
Indonesia tidak turut perkembangan itu akan tertinggal dalam globalisasi. Akan
tetapi ini mengakibatkan makin menguatnya individualisme dan itu tidak dapat
dibendung.
Nama :
Shintia Efriyani
NPM :
26211751
Kelas :
3EB10
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar