Timnas U-19 : Harapan Masyarakat Indonesia
Timnas U 19 membawa sejumlah pesan bagi PSSI. Sudah saatnya
pembinaan pemain usia muda mendapatkan prioritas ketimbang mengejar prestasi
instan lewat naturalisasi.
Bolehlah berkaca pada keberhasilan Singapura meraih juara piala AFF 2004 dengan materi pemain naturalisasi atau keberadaan Mauro Camoranesi sebagai pemain naturalisasi dalam skuad Italia yang menjuarai piala dunia 2006, tapi jangan pula melupakan bahwa keberhasilan Malaysia menjuarai piala AFF 2010 terasa “lebih manis” rasanya dan bagaimana Italia di piala dunia selanjutnya tidak sanggup lolos dari fase grup karena kekurangan amunisi penerus yang muda dan berkualitas.
Bolehlah berkaca pada keberhasilan Singapura meraih juara piala AFF 2004 dengan materi pemain naturalisasi atau keberadaan Mauro Camoranesi sebagai pemain naturalisasi dalam skuad Italia yang menjuarai piala dunia 2006, tapi jangan pula melupakan bahwa keberhasilan Malaysia menjuarai piala AFF 2010 terasa “lebih manis” rasanya dan bagaimana Italia di piala dunia selanjutnya tidak sanggup lolos dari fase grup karena kekurangan amunisi penerus yang muda dan berkualitas.
Tengoklah kesabaran Spanyol memupuk prestasi dengan pembinaan usia
muda yang sebagian besar datang dari akademi La Masia Barcelona. Iniesta, Xavi,
Puyol, Busquest dipadukan dengan talenta lain seperti Fabregas, Torres dan
Villa secara konsisten meraih juara Euro 2008 dan 2012 dengan diselingi juara
piala dunia 2010. Di saat generasi emas ini belum selesai memberi prestasi,
sederet junior berkualitas seperti Thiago Alcantara, Morata, De Gea dan Javi
Martinez menunggu kesempatan masuk di tim senior. Bisa dibayangkan bagaimana kuatnya
hegemoni Spanyol nanti dalam dunia sepakbola. Dalam hal ini, mungkin hanya
Jerman yang bisa menyaingi Spanyol. Kembali ke timnas U 19, Evan Dimas dkk
boleh dikatakan sebagai generasi emas sepakbola Indonesia.
Mereka adalah pemutus dahaga gelar Indonesia di turnamen
internasional sejak tahun 1991, waktu yang sangat lama. Bolehlah kita berharap
bahwa timnas U 19 bukanlah timnas primavera yang mampu melahirkan kualitas
macam Kurniawan Julianto, Aples Tecuari dan Bimasakti namun secara team tidak
mampu memberikan sumbangsih gelar.
Timnas U 19 jangan sampai mengikuti jejak timnas primavera yang menjanjikan talenta-talenta berbakat yang lalu tidak mampu berbicara banyak karena “salah asuh” dari pemegang otoritas pembinaan sepakbola di negeri ini. Kita tentu tidak ingin Evan Dimas, Maldini Pali, Ravi Murdianto dan rekan-rekannya dikenang “hanya” sebagai juara AFF U 19 yang mengalahkan Korsel untuk melaju ke Piala Asia U 19 2015. Kita ingin agar Evan Dimas dkk dikenang sebagai timnas Indonesia “murni” pertama (bukan timnas yang membawa nama Hindia Belanda) yang mampu tampil dan menghibur di pentas piala dunia.
Timnas U 19 jangan sampai mengikuti jejak timnas primavera yang menjanjikan talenta-talenta berbakat yang lalu tidak mampu berbicara banyak karena “salah asuh” dari pemegang otoritas pembinaan sepakbola di negeri ini. Kita tentu tidak ingin Evan Dimas, Maldini Pali, Ravi Murdianto dan rekan-rekannya dikenang “hanya” sebagai juara AFF U 19 yang mengalahkan Korsel untuk melaju ke Piala Asia U 19 2015. Kita ingin agar Evan Dimas dkk dikenang sebagai timnas Indonesia “murni” pertama (bukan timnas yang membawa nama Hindia Belanda) yang mampu tampil dan menghibur di pentas piala dunia.
Harapan kesana tidaklah salah, terlebih bila melihat aksi
anak-anak muda ini yang mampu memperagakan sepakbola menghibur ala Barcelona. Harapan
yang harus terus dijaga sambil menjaga anak-anak muda yang memanggul harapan
jutaan rakyat Indonesia ini tetap memiliki antuasiasme dan nasionalisme nan
militan seperti yang mereka tunjukkan saat menekuk Korsel. Kalau sudah
demikian, kita berharap satu saat nanti bisa melihat Evan Dimas dkk bersujud
syukur di tengah lapangan pertandingan piala dunia. Semoga dan amin.
PSSI sebagai induk organisasi, juga kita
yang pasti berharap banyak, harus tetap memberi apresiasi tinggi, meskipun
nanti kalah lawan Korsel. Sebab, meski
Indra Syafri yakin timnya bisa mengalahkan Korsel –keyakinan seperti ini memang
perlu ditanamkan— tetapi harus tetap melihat realitas. Di luar itu, permainan menawan di setiap
pertandingan yang perlihatkan anak-anak U-19 ini harus menjadi penyemangat bagi
tim U-23 yang akan bertarung di SEA Games Myanmar, dan tim senior yang
bertarung melawan Cina di Pra Piala Asia 2014.
Kita semua berharap, kesuksesan di AFF 2013 akan
terus menular ke kualifikasi AFC 2014, dan kemudian menular ke iven-iven lain
ke depannya.
Nama
: Shintia Efriyani
NPM
: 26211751
Kelas
: 3EB10
Referensi
:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar