Moralitas Pelajar Zaman Sekarang
Pelajar
adalah generasi muda yang harus mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuan dan
berbudi pekerti luhur. Namun belakang muncul fenomena yang negatif dikalangan
pelajar, diantaranya adalah tawuran, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor,
diantaranya adalah faktor keluarga, faktor lingkungan, faktor pergaulan.
Krisis
moralitas pelajar menjadi pemicu tawuran berdarah antar pelajar beberapa waktu
lalu terjadi dipusat ibu kota Republik Indonesia. Krisis akhlak dan prilaku juga
penyebab tindakan krimal tersebut. Tawuran seolah-olah menjadi santapan pelajar
di Indonesia ini. Bukan kali pertama itu bahkan sudah berlarut-larut kita
dengar pelajar Vs pelajar berantam sehingga tewas menggenaskan. Para pelajar
itu bahkan berani membunuh sesamanya. Padahal mereka masih duduk dibangku
sekolah. Dan juga seolah-olah jiwa pembunuh itu tumbuh dibangku sekolah. Tanpa
takut, menggangap dirinya adalah pejuang sejati, pembela kebenaran. Pelajar itu
pun menghunuskan pisau bahkan badik di tubuh siswa lain. Apakah jiwa pembunuh
yang dididik di SMA selama ini. Sehingga para siswa itu tidak ada rasa takut
menjadi pembunuh atau para guru dan pendidiknya tidak mengajarkan moralitas dan
prilaku menyimpang itu.
Ditengah
krisis melanda negeri ini, hutang negara dimana-mana. Pendidikan di negeri ini
senasib dengan negara yang banyak hutang itu. Padahal bangkitnya suatu negara
sangat bergantung pada kemajuan pendidikanya. Negara ini akan pulih, jikalau
generasinya sehat secara jasmani dan rohani. Namun sebaliknya hancurnya
generasi ini maka hancurlah bangsa ini. Tidak heran apabila setiap hari kita
meyaksikan pemberitaan di media masa. Hampir tidak ada hari tanpa pemberitaan
“Korupsi”. Pelakunya adalah anak negeri ini sendiri. Wajar ketika kita melihat
korupsi merajarela. Dimana pendidikanya juga sudah tidak mendidik lagi. Tidak
heran lahirlah penjahat-penjahat baru di negeri ini. Semua kejadianya tersebut
berawal dari pendidikan.
Negara
kita ini memang sedang sakit berat. Sakitnya sudah lama sejak dijajah, awal
kemerdekaan, di masa orde baru, orde lama hingga di era baru yakni reformasi. Kondisi
bangsa yang sakit berat itu tidak akan pernah sembuh. Ketika pendidikan masih
carut marut. Adalah generasi yang bermoral dan berakhlah yang bisa memulihkan
sakit berat bangsa ini. Tanpa ada dua sikap itu, bangsa ini tidak akan pernah
sembuh dari sakit beratnya, yang sudah menggerogoti hampir seluruh lini
kehidupan bahkan ke institusi pendidikan.
Tawuran
yang terjadi tepat berada pemangku kebijakan, yakni sebagai pusat pemerintah
Indonesia, bukti bangsa ini masih gagal dan memudarnya krisis moral. Apalagi
krisis itu terjadi di pusat ibu kota. Yang selayaknya bisa memberikan tauladan
yang baik, contoh yang santun bagi daerah yang ada di seluruh Indonesia, yang
terbentang luas dari Sabang sampai Maroke. Namun sebaliknya sering saja
menampilkan tindakan yang tidak bermoral yang muncul di pusat ibu kota itu,
bagi daerah lain. Tawuran antar pelajar sehingga ada yang tewas itu adalah hal
yang cukup ironi dalam dunia pendidikan kita. Bahkan melanggar UU Sistem
Pendidikan Nasional yang dibuat oleh pejabat di pusat Ibu Kota Jakarta itu.
Pemerintah
dalam hal ini yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus bertindak tegas
menyikapi permasalah tersebut. Tawuran antar pelajar bukan hal biasa. Ini bukti
bahwa pemerintah gagal membina generasi bangsa ini kearah yang lebih baik. Apa
jadinya, jika tawuran antar pelajar terulang lagi. Siapakah yang harus
disalahkan, sistem pendidikan kah, gurunya kah, sekolahnya kah atau Kementerian
Pendidikan. Nah disini tidak ada yang salah dan benar semua harus bertanggung
jawab. Hampir merata terjadi di Indonesia, korupsi, kriminalitas, peredaran
narkoba, perselingkuhan pejabat hingga krisis memudarnya moralitas Pelajar.
Dari
semua kasus tersebut sangat disayangkan sekali pelajar yang harusnya menjadi
generasi penerus bangsa ternyata memiliki moralitas yang sangat buruk untuk itu
harus adanya kesadaran dari diri sendiri untuk merubahnya serta dorongan dari
keluarga ataupun orang-orang terdekat untuk memberikan motivasi, masukan, kasih
sayang, perhatian, dan lain sebagainya agar mereka sadar perbuatan yang mereka
lakukan salah atau benar.
Nama
: Shintia Efriyani
NPM
: 26211751
Kelas
: 3EB10
Referensi
:
Tidak ada komentar:
Posting Komentar