Senin, 18 November 2013

Tugas Bahasa Indonesia 2 Moralitas Pelajar Saat Ini

Moralitas Pelajar Zaman Sekarang

Pelajar adalah generasi muda yang harus mempunyai wawasan dan ilmu pengetahuan dan berbudi pekerti luhur. Namun belakang muncul fenomena yang negatif dikalangan pelajar, diantaranya adalah tawuran, hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, diantaranya adalah faktor keluarga, faktor lingkungan, faktor pergaulan.
Krisis moralitas pelajar menjadi pemicu tawuran berdarah antar pelajar beberapa waktu lalu terjadi dipusat ibu kota Republik Indonesia. Krisis akhlak dan prilaku juga penyebab tindakan krimal tersebut. Tawuran seolah-olah menjadi santapan pelajar di Indonesia ini. Bukan kali pertama itu bahkan sudah berlarut-larut kita dengar pelajar Vs pelajar berantam sehingga tewas menggenaskan. Para pelajar itu bahkan berani membunuh sesamanya. Padahal mereka masih duduk dibangku sekolah. Dan juga seolah-olah jiwa pembunuh itu tumbuh dibangku sekolah. Tanpa takut, menggangap dirinya adalah pejuang sejati, pembela kebenaran. Pelajar itu pun menghunuskan pisau bahkan badik di tubuh siswa lain. Apakah jiwa pembunuh yang dididik di SMA selama ini. Sehingga para siswa itu tidak ada rasa takut menjadi pembunuh atau para guru dan pendidiknya tidak mengajarkan moralitas dan prilaku menyimpang itu.
Ditengah krisis melanda negeri ini, hutang negara dimana-mana. Pendidikan di negeri ini senasib dengan negara yang banyak hutang itu. Padahal bangkitnya suatu negara sangat bergantung pada kemajuan pendidikanya. Negara ini akan pulih, jikalau generasinya sehat secara jasmani dan rohani. Namun sebaliknya hancurnya generasi ini maka hancurlah bangsa ini. Tidak heran apabila setiap hari kita meyaksikan pemberitaan di media masa. Hampir tidak ada hari tanpa pemberitaan “Korupsi”. Pelakunya adalah anak negeri ini sendiri. Wajar ketika kita melihat korupsi merajarela. Dimana pendidikanya juga sudah tidak mendidik lagi. Tidak heran lahirlah penjahat-penjahat baru di negeri ini. Semua kejadianya tersebut berawal dari pendidikan.
Negara kita ini memang sedang sakit berat. Sakitnya sudah lama sejak dijajah, awal kemerdekaan, di masa orde baru, orde lama hingga di era baru yakni reformasi. Kondisi bangsa yang sakit berat itu tidak akan pernah sembuh. Ketika pendidikan masih carut marut. Adalah generasi yang bermoral dan berakhlah yang bisa memulihkan sakit berat bangsa ini. Tanpa ada dua sikap itu, bangsa ini tidak akan pernah sembuh dari sakit beratnya, yang sudah menggerogoti hampir seluruh lini kehidupan bahkan ke institusi pendidikan.
Tawuran yang terjadi tepat berada pemangku kebijakan, yakni sebagai pusat pemerintah Indonesia, bukti bangsa ini masih gagal dan memudarnya krisis moral. Apalagi krisis itu terjadi di pusat ibu kota. Yang selayaknya bisa memberikan tauladan yang baik, contoh yang santun bagi daerah yang ada di seluruh Indonesia, yang terbentang luas dari Sabang sampai Maroke. Namun sebaliknya sering saja menampilkan tindakan yang tidak bermoral yang muncul di pusat ibu kota itu, bagi daerah lain. Tawuran antar pelajar sehingga ada yang tewas itu adalah hal yang cukup ironi dalam dunia pendidikan kita. Bahkan melanggar UU Sistem Pendidikan Nasional yang dibuat oleh pejabat di pusat Ibu Kota Jakarta itu.
Pemerintah dalam hal ini yakni Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan harus bertindak tegas menyikapi permasalah tersebut. Tawuran antar pelajar bukan hal biasa. Ini bukti bahwa pemerintah gagal membina generasi bangsa ini kearah yang lebih baik. Apa jadinya, jika tawuran antar pelajar terulang lagi. Siapakah yang harus disalahkan, sistem pendidikan kah, gurunya kah, sekolahnya kah atau Kementerian Pendidikan. Nah disini tidak ada yang salah dan benar semua harus bertanggung jawab. Hampir merata terjadi di Indonesia, korupsi, kriminalitas, peredaran narkoba, perselingkuhan pejabat hingga krisis memudarnya moralitas Pelajar.
Dari semua kasus tersebut sangat disayangkan sekali pelajar yang harusnya menjadi generasi penerus bangsa ternyata memiliki moralitas yang sangat buruk untuk itu harus adanya kesadaran dari diri sendiri untuk merubahnya serta dorongan dari keluarga ataupun orang-orang terdekat untuk memberikan motivasi, masukan, kasih sayang, perhatian, dan lain sebagainya agar mereka sadar perbuatan yang mereka lakukan salah atau benar. 

Nama         : Shintia Efriyani
NPM          : 26211751
Kelas          : 3EB10

Referensi :



Tidak ada komentar:

Posting Komentar