Masyarakat RI Belum Melek Produk dan Akses
Keuangan
Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mengakui
Indonesia masih memerlukan upaya terencana untuk mengatasi ketertinggalannya
dalam akses ke produk dan layanan keuangan. "Industri keuangan
Indonesia memiliki peran yang penting dalam mendukung pertumbuhan ekonomi
melalui intermediasi, di mana hingga 31 Desember 2012 dana intermediasi yang
disalurkan sebesar Rp 7.159,4 triliun,” masa depan peran industri keuangan
Indonesia masih perlu ditingkatkan. Kondisi geografis Indonesia yang terdiri
dari pulau-pulau memang menyebabkan akses masyarakat ke lembaga keuangan dan
informasi serta fungsi intermediasi menjadi kurang optimal.
Masalah
geografis juga menyebabkan infrastruktur layanan jasa keuangan menjadi tidak
merata. Serta akses informasi untuk wilayah tertentu menjadi sangat mahal
ditengah biaya layanan jasa keuangan yang relatif lebih tinggi. Hasil survei
Bank Dunia pada 2011 menunjukan, baru sebagian kecil masyarakat Indonesia yang
memiliki rekening di lembaga keuangan resmi. Dari survei itu tergambar hanya
20% orang dewasa di Indonesia yang memiliki rekening di lembaga keuangan resmi.
Angka ini berada di bawah Filipina, Malaysia, Thailand, dan Singapura yang
mencapai berturut-turut 27%, 66%, 73% dan 98%.
Berkaca dari data itu, OJK mendorong
perluasan upaya akses dan inklusi keuangan yang disebut Strategi Nasional
Literasi Keuangan. Dalam strategi ini dicanangkan tiga pilar utama untuk
memastikan pemahaman masyarakat tentang produk dan layanan yang ditawarkan oleh
lembaga jasa keuangan.
Ketiga
strategi itu adalah program edukasi dan kampanye nasional literasi keuangan,
penguatan infrastruktur literasi keuangan, dan pengembangan produk dan layanan
jasa keuangan yang terjangkau.
"Tiga
pilar ini untuk mewujudkan masyarakat Indonesia yang memiliki tingkat literasi
keuangan yang tinggi sehingga masyarakat dapat memilih dan memanfaatkan produk
dan jasa keuangan guna meningkatkan kesejahteraan," kata Muliaman. Adapun
kegiatan lain yang sudah dan akan dilakukan dalam program strategis OJK ini
adalah layanan Financial Customer Care (FCC), roadmap mekanisme penyelesaian sengketa
di industri jasa keuangan, market intelligence dan edukasi masyarakat.
Berikut adalah hasil temuan OJK terkait
tingkat pengetahuan keuangan dari masyarakat Indonesia:
1.
Sektor perbankan
Sebagai
sektor bisnis dengan pangsa pasar terbesar diantara seluruh industri keuangan,
tercatat hanya 22% masyarakat indonesia yang memahami produk perbankan. Namun
tingkat penggunaan jasa perbankan termasuk baik karena sudah mencakup 57% dari
responden.
2.
Industri Asuransi
OJK
menemukan fakta hanya 18 orang dari 100 orang yang benar-benar memahami
asuransi dan hanya 12% responden yang benar-benar memanfaatkan produk asuransi.
3.
Sektor Pegadaian
Tercatat 15 orang dari 100 telah
memahami pegadaian namun pemanfaatannya hanya 5%.
4. Lembaga Pembiayaan
Sebanyak
10% responden mengaku memahami produk lembaga pembiayaan. Sayangnya hanya 6%
respoden yang mengaku memanfaatkan lembaga pembiayaan tersebut.
5.
Dana Pensiun
Sedangkan
mengenai dana pensiun hanya 7% yang paham dan 2% yang baru memanfaatkan
6.
Pasar Modal
OJK
menemukan hanya 4% dari 8.000 responden yang mengaku memahami pasar modal.
Ironisnya hanya 1% masyarakat Indonesia yang benar-benar memanfaatkan
keberadaan pasar modal.
Nama :
Shintia Efriyani
NPM :
26211751
Kelas :
3EB10
Referensi :
Tidak ada komentar:
Posting Komentar