Shintia Efriyani
26211751
3EB10
Sejarah
Dan Perkembangan Asuransi di Indonesia
Asuransi
masuk ke Indonesia pada waktu penjajahan Belanda yang dipicu oleh sektor
perkebunan dan perdagangan. Masuknya asuransi ke Indonesia adalah setelah
berdirinya sebuah perusahaan Asuransi Belanda yaitu De Nederlanden Van 1845. Di
Indonesia, oleh orang Belanda didirikan sebuah perusahaan asuransi jiwa pertama
dengan nama Nederlandsh Indisch Leven Verzekering En Liefrente Maatschappij
(NILMIY) dimana perusahaan ini terakhir diambil alih oleh Pemerintah Indonesia
dan berubah menjadi PT. Asuransi Jiwasraya. Pada tahun 1853 terdapat perusahaan
asuransi kerugian pertama di Indonesia yaitu Bataviasche Zee End Brand Asrantie
Maatschappij. Pada tahun 1912 didirikan perusahaan asuransi jiwa bernama Asuransi
Jiwa Boemi Poetra 1912. Nasionalisasi Perusahaan Asuransi Asing Pada tahun 1973
Perusahaan Negara Asuransi Bendasraya digabungkan dengan PT Umum Internasional
Underwriter menjadi PT. Asuransi Jasindo.
Asuransi,
yang pengertian secara umumnya yaitu perlindungan properti dari suatu hal tidak
di duga yang menyebabkan kerugian. Bisnis asuransi hadir di Indonesia pada
awalnya ketika zaman penjajahan Belanda, dimana pada saat itu negara kita masih
di sebut dengan Nederlands Indie.
Masuknya asuransi ke Indonesia itu sendiri akibat keberhasilan bangsa Belanda
pada beberapa sektor di negeri jajahannya, seperti sektor perkebunan dan
perdagangan. Untuk menjamin keberlangsungan usahanya, maka adanya asuransi
sangat diperlukan. Dengan demikian perkembangan
asuransi di Indonesia di
bagi dalam kurun dua waktu, yaitu zaman penjajahan sampai tahun 1942, dan zaman
perang sesudah Perang Dunia II atau zaman kemerdekaan. Dan ketika itu beberapa
perusahaan asuransi yang ada di Hindia Belanda pada zaman penjajahan adalah
perusahaan-perusahaan asuransi yang didirikan oleh Belanda, Inggris, dan negara
lainnya. Dengan sistim monopoli yang dijalankan di Hindia Belanda, perkembangan asuransi kerugian di Hindia Belanda terbatas
pada kegiatan dagang dan kepentingan bangsa Belanda, Inggris, serta
bangsa-bangsa Eropa lainnya. Manfaat serta peranan dari asuransi sendiri belum
di kenal oleh masyarakat, terutama masyarakat pribumi. Adapun jenis asuransi
yang telah diperkenalkan di Hindia Belanda pada waktu itu masih sangat terbatas
dan sebagian besar masih terdiri dari asuransi kebakaran dan asuransi
pengangkutan. Sedangkan asuransi kendaraan bermotor masih belum memegang peran,
saat itu jumlah kendaraan bermotor masih sangat minim, karena sebagian besar
masih dimiliki oleh bangsa Belanda dan bangsa asing lainnya. Namun perkembangan
asuransi saat ini di Indonesia terdapat beberapa jenis asuransi. Seperti asuransi jiwa, asuransi kesehatan, asuransi pendidikan, asuransi kendaraan,
dsb. Salah satu contoh perusahaan asuransi kendaraan yang ada saat ini adalah
Adira, dengan tagline Adira Asuransi Kendaraan
Terbaik Indonesia. Tetapi pada masa Perang
Dunia II kegiatan peransuransian di Indonesia sempat terhenti, karena
ditutupnya perusahaan-perusahaan asuransi milik Belanda dan Inggris.
Untuk
kesejahtraan rakyat, pemerintah juga mendirikan perusahaan asuransi sosial yang
melaksanakan kegiatannya berdasarkan ketentuan perundang-undangan, yaitu :
·
Asuransi Jasa Rahardja untuk asuransi
kecelakaan lalu lintas
·
Perum Taspen untuk Tabungan dan Asuransi
Pegawai Negeri
·
Perum Asabri untuk anggota Angkatan
Bersenjata Republik Indonesia
·
Jamsostek, yaitu asuransi kecelakaan
tenaga kerja perusahaan swasta
Prediksi tumbuh pesatnya industri asuransi syariah di tingkat global
dinilai juga akan diikuti oleh perkembangan asuransi syariah tanah air. Upaya
pemerintah mengembangkan perbankan syariah diyakini berdampak positif pada
asuransi syariah. ndustri
asuransi syariah Indonesia masih tergolong kecil padahal negara ini memiliki
jumlah penduduk Muslim terbanyak di dunia. “Ini menjadi perhatian Otoritas Jasa
Keuangan (OJK) untuk membesarkan industri keuangan non bank, terutama asuransi,”
di luar negeri seperti Eropa dan Amerika, industri asuransi sangat maju. Bahkan
tidak jarang perusahaan asuransi di sana memiliki industri pesawat, kilang
minyak bahkan mempunyai bank. Syakir berujar industri asuransi erat kaitannya
dengan kemakmuran rakyat. Semakin makmur masyarakat, industri asuransinya
semakin maju. “Kita di Indonesia masih banyak penduduk kelas menengah ke bawah
sehingga industri ausransi tidak sebesar perbankan,”
Keberpihakan pemerintah sangat diperlukan untuk mengambangkan industri
asuransi syariah. Syakir mengapresiasi upaya pemerintah yang terus mencari
formula mengembangkan industri keuangan syariah Indonesia. Saat ini Kementerian
BUMN tak henti mencari inovasi membesarkan perbankan syariah. Bank Indonesia
(BI) juga berjuang keras mengembangkan industri keuangan syariah. Segala macam
kebijakan pun sudah dikeluarkan BI untuk mencapai tujuan tersebut. Saat ini
giliran OJK sedang mencari formula mengembangkan lembaga keuangan syariah non bank.
Tantangan terbesar yang dihadapi industri asuransi syariah tanah air
adalah Sumber Daya Manusia (SDM). Pasalnya saat ini sekolah ekonomi
syariah lebih memusatkan pada pendekatan fiqih, padahal menurut Syakir
pendekatan ekonomi juga sangat dibutuhkan. Selain itu, jumlah pakar atau
doktor-doktor syariah di Indonesia masih sedikit. “Produksi doktor ekonomi
syariah justru banyak dari Inggris, Malaysia dan Pakistan. Di Indonesia malah
sedikit,” kata dia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar