Selasa, 19 November 2013

Tugas Bahasa Indonesia 2 Harapan Untuk Masa Depan Bangsa Indonesia

Harapan Untuk Masa Depan Bangsa Indonesia
Dalam ukuran materi kondisi rakyat kita antara tahun 1945 dan 1950 masih lebih buruk dari pada sekarang. Akan tetapi pada waktu itu kesengsaraan bersifat umum dan selain itu diimbangi dengan semangat perjuangan yang menggelora di antara bagian terbesar bangsa. Mungkin pada waktu itu juga sudah ada KKN, tetapi ukurannya amat terbatas sehingga tidak berpengaruh terhadap kondisi bangsa pada umumnya. Bangsa Indonesia bersatu dalam perjuangan untuk membela kemerdekaan yang baru diraih, menghadapi kaum penjajah yang hendak menguasai kita kembali.
Reformasi yang membangun kehidupan demokrasi berkembang tanpa dapat membatasi kebebasan yang berlebihan. Akibatnya adalah bahwa semua mengejar kepentingannya sendiri-sendiri tanpa mengacuhkan aturan dan ketentuan, tidak peduli terhadap kepentingan umum. Individualisme dan egoisme yang kasar itu terutama nampak jelas dalam kondisi lalu lintas, terutama di kota-kota. Pokoknya masing-masing mau menang dan untung sendiri, tidak penting bagaimana akibat dan dampaknya bagi masyarakat. Disiplin sosial dan nasional yang sebelum Reformasi sudah kurang memuaskan justru makin rendah dan buruk sejak Reformasi. Tampaknya kaum pimpinan atau elit bangsa yang begitu gemar dalam demokratisasi bangsa tidak atau tidak mau menyadari bahwa tidak mungkin ada demokrasi yang benar tanpa ada disiplin dan kekuasaan hukum serta peraturan. Buktinya, tidak ada pimpinan yang sanggup maju untuk memperbaiki keadaan yang makin parah itu. Padahal kekuasaan hukum dan disiplin tidak hanya penting untuk demokrasi, tetapi juga penting sekali untuk memperbaiki ekonomi yang parah dan kondisi sosial yang sedang ditimpa macam-macam persoalan, seperti pertentangan etnik dan kurang serasinya hubungan umat beragama dan lainnya.
Padahal di samping bangsa Indonesia harus mengatasi kelemahan-kelemahan yang ada dalam tubuhnya sendiri, tantangan yang datang dari luar makin hebat. Seperti globalisasi dengan segala aspeknya, perilaku dan sikap hegemonik AS sebagai satu-satunya adikuasa, makin berkembangnya teknologi komunikasi dalam bentuk Internet, dan lainnya.

KEPEMIMPINAN ADALAH KUNCI PERBAIKAN
Sejak Reformasi bangsa Indonesia sudah mengalami tiga pemerintahan dengan tiga Presiden yang berbeda. Setiap kali ada pemerintah baru, setiap kali pula seluruh bangsa mempunyai harapan bahwa akan terjadi perbaikan. Terutama ketika Abdurrahman Wahid menjadi Presiden RI pertama yang benar-benar terpilih sesuai dengan UUD 1945. Akan tetapi kemudian selalu bangsa mengalami kekecewaan karena terbukti pemerintah yang diharapkan membawa perbaikan, tidak menghasilkan yang berarti dan malahan memperluas KKN dan merusak suasana bangsa.
Pertama, kepemimpinan itu harus bersifat tegas. Tegas terhadap semua pihak dan terutama terhadap dirinya sendiri bahwa ia bertekad membawa Indonesia maju dan sejahtera. Ketegasan itu diperlukan untuk menegaskan bahwa harus ada disiplin dalam kehidupan, bahwa hukum harus berlaku di Indonesia. Itu berlaku untuk semua pihak, terutama bagi kalangan pemimpin dan lingkungannya serta keluarganya sehingga menjadi tauladan bagi pihak lain. Memang harus ada kebebasan dalam kehidupan, tetapi kebebasan itu bukannya tanpa batas dan tetap menjamin tertib dan damainya masyarakat.
Kedua, kepemimpinan harus ada keberanian moril dan fisik. Keberanian itu diperlukan untuk menetapkan hal-hal yang perlu terjadi, seperti pemberantasan KKN. Karena tidak mustahil banyak pihak akan terganggu kepentingannya dan melawan tindakan perbaikan itu, maka keberanian moril dan fisik itu penting sekali. Juga keberanian itu diperlukan untuk mengeluarkan ketentuan atau peraturan yang tidak populer tetapi dianggap perlu untuk jangka panjang kehidupan.
Ketiga, kepemimpinan harus konsisten dalam segala sepak terjangnya. Hanya dengan sikap konsisten itu dapat direbut kepercayaan rakyat banyak. Tidak mungkin menyerukan untuk hidup sederhana kalau dirinya dan lingkungannya selalu hidup mewah. Tidak mungkin membawa masyarakat berdisiplin kalau dirinya dan lingkungannya diketahui suka melanggar disiplin dan aturan. Sikap konsisten ini yang lambat laun akan membawa suasana baru di Indonesia, yaitu meninggalkan suasana di mana orang bergelut sendiri-sendiri untuk meraih kekayaan sebanyak mungkin, menjadi suasana masyarakat yang hidup teratur dalam kebersamaan yang harmonis.

MENGHADAPI KONDISI INTERNASIONAL YANG BERAT
Bangsa Indonesia memerlukan kepemimpinan yang kuat untuk dapat menghadapi perkembangan internasional yang tidak mudah. Tanpa kepemimpinan yang kokoh Indonesia akan menjadi bola permainan belaka dan tidak mustahil hanya akan menjadi negara boneka dari negara yang kuat. Padahal dalam kondisi umat manusia dewasa ini tidak mungkin satu bangsa mengisolasi diri, sebab isolasi justru berarti kehancuran seperti yang dialami Myanmar. Sebab itu Indonesia harus mampu hidup dan jaya dalam kondisi dunia yang amat dinamis dan penuh persaingan.
Pertama, harus dapat menghadapi AS yang sekarang menjadi the single superpower atau negara adikuasa baik dalam militer maupun ekonomi. AS secara terang-terangan memainkan peran dan sikap hegemonik untuk menguasai dunia. Meskipun peran dan sikap demikian sudah dimulai sejak ada Perang Dingin, tetapi setelah Perang Dingin selesai perilakunya makin menjadi-jadi.
Kedua, globalisasi menimbulkan banyak persoalan kepada semua bangsa, khususnya bangsa yang sedang berkembang. Globalisasi sebagai salah satu proses evolusi umat manusia yang disebabkan oleh perkembangan sains dan teknologi tidak dapat dihindarkan oleh siapa saja. Akan tetapi kalau tidak pandai menghadapinya dapat menghanyutkan Negara dan bangsa, apalagi AS memanfaatkan globalisasi untuk kepentingan hegemoniknya dengan memanfaatkan peran Bank Dunia, IMF dan WTO atau Organisasi Perdagangan Dunia yang semua dikuasainya. Untuk selamat dalam globalisasi setiap bangsa harus dapat memperkuat identitasnya agar tidak hanyut. Akan tetapi juga harus melakukan berbagai usaha untuk meraih kemahiran dan penonjolan sehingga tidak tertinggal dalam perjalanan umat manusia.
Ketiga, Indonesia harus menghadapi kenyataan makin berkembangnya komunikasi melalui Internet. Sekarang setiap orang dengan menggunakan komputer dan Internet dapat mengakses informasi dan pengetahuan apa saja dari seluruh dunia dan dilakukan dalam waktu cepat. Juga di Indonesia hal ini terus berkembang. Sebab kalau Indonesia tidak turut perkembangan itu akan tertinggal dalam globalisasi. Akan tetapi ini mengakibatkan makin menguatnya individualisme dan itu tidak dapat dibendung.


Nama       : Shintia Efriyani
NPM        : 26211751
Kelas       : 3EB10

Referensi :




Tidak ada komentar:

Posting Komentar