REVIEW
FENOMENA LEMBAGA KEUANGAN MIKRO
DALAM PERSPEKTIF PEMBANGUNAN EKONOMI PEDESAAN
Oleh
Rachmat Hendayana dan Sjahrul Bustaman
http://pse.litbang.deptan.go.id/ind/pdffiles/Semnas4Des07_MP_A_Rachmat.pdf
ABSTRAK DAN PENDAHULUAN
NAMA : SHINTIA EFRIYANI
NPM : 26211751
Abstrak
Suatu pengkajian empiris tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang bertujuan untuk mengetahui kinerja LKM dalam perspektif pembangunan ekonomi perdesaan telah dilakukan di Jawa pada awal tahun 2007 melalui pendekatan pemahaman perdesaan secara partisipasi menggunakan metode group interview dan individual indepth interview melibatkan pengurus dan penggunaan LKM. Dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif terhadap LKM contoh yang dipilih secara sengaja, diperoleh gambaran sebagai berikut: (a) LKM masih berpeluang untuk dijadikan instrument kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dengan menerapkan Skim yang akomodatif terhadap karakteristik masyarakat tani yakni pola Bukan Bank Bukan Koperasi (B3K), (b) factor kritis dalam pengembangan LKM sector pertanian terletak pada aspek sumberdaya manusia pengelola LKM, legalitas kelembagaan, persepsi dan apresiasi petani/nasabah, dan dukungan speed capital, (c) perspektif pengembangan LKM akan sangat tergantung pada kemampuan LKM memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan unsure kelemahan dan menekan ancaman yang muncul, (d) untuk dapat mengoptimalkan LKM sebagai instrument kebijakan pemerintah yang efektif dan efisien diperlukan pendekatan secara partisipatif, diikuti penyiapan SDM pengelola LKM yang kapabel, memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan menekan ancaman dalam pengembangan LKM. Langkah strategis untuk memprakarsai pembentukan LKM selain harus didasarkan pada aspek kebutuhan masyarakat dan berbasis kelompok yang terseleksi juga harus mempertimbangkan adanya factor kritis pengembangan LKM. Bagi wilayah yang sudah ada LKM tetapi akses petani masih rendah, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan “perceived value”.
Suatu pengkajian empiris tentang Lembaga Keuangan Mikro (LKM) yang bertujuan untuk mengetahui kinerja LKM dalam perspektif pembangunan ekonomi perdesaan telah dilakukan di Jawa pada awal tahun 2007 melalui pendekatan pemahaman perdesaan secara partisipasi menggunakan metode group interview dan individual indepth interview melibatkan pengurus dan penggunaan LKM. Dengan menggunakan pendekatan analisis deskriptif kualitatif terhadap LKM contoh yang dipilih secara sengaja, diperoleh gambaran sebagai berikut: (a) LKM masih berpeluang untuk dijadikan instrument kebijakan pemerintah dalam upaya meningkatkan produktivitas pertanian menuju peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani dengan menerapkan Skim yang akomodatif terhadap karakteristik masyarakat tani yakni pola Bukan Bank Bukan Koperasi (B3K), (b) factor kritis dalam pengembangan LKM sector pertanian terletak pada aspek sumberdaya manusia pengelola LKM, legalitas kelembagaan, persepsi dan apresiasi petani/nasabah, dan dukungan speed capital, (c) perspektif pengembangan LKM akan sangat tergantung pada kemampuan LKM memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan unsure kelemahan dan menekan ancaman yang muncul, (d) untuk dapat mengoptimalkan LKM sebagai instrument kebijakan pemerintah yang efektif dan efisien diperlukan pendekatan secara partisipatif, diikuti penyiapan SDM pengelola LKM yang kapabel, memaksimalkan kekuatan dan peluang serta meminimalkan kelemahan dan menekan ancaman dalam pengembangan LKM. Langkah strategis untuk memprakarsai pembentukan LKM selain harus didasarkan pada aspek kebutuhan masyarakat dan berbasis kelompok yang terseleksi juga harus mempertimbangkan adanya factor kritis pengembangan LKM. Bagi wilayah yang sudah ada LKM tetapi akses petani masih rendah, langkah strategis yang perlu dilakukan adalah mengoptimalkan “perceived value”.
PENDAHULUAN
Pembangunan
ekonomi pedesaan sebagai bagian integral dari Pembangunan Ekonomi Nasional,
keberhasilannya banyak di sokong oleh kegiatan usahatani. Hal itu merujuk
fakta, sebagian besar masyarakat di pedesaan menggantungkan hidupnya dari kegiatan
usahatani. Oleh karena itu tidak mengherankan, kegiatan usahatani sering dijadikan
indikator pembangunan ekonomi pedesaan. Di
dalam praktek usahatani, diperlukan inovasi teknologi guna mendorong peningkatan produktivitas dan produksinya.
Kelemahan petani justru pada adopsi inovasi teknologi yang relatif rendah
sebagai dampak penguasaan modal usahatani yang lemah. Untuk mengatasi kekurangan modal usahatani,
petani biasanya mengusahakan tambahan modal dari berbagai sumber dana baik dari
lembaga keuangan formal (perbankan) maupun kelembagaan jasa keuangan non
formal. Namun umumnya karena petani sering
tidak memiliki akses terhadap
lembaga perbankan konvensional, ia akan memilih untuk berhubungan dengan
lembaga jasa keuangan informal seperti
petani pemodal (pelepas uang -
rentenir), atau mengadakan kontrak dengan pedagang sarana produksi dan sumber lain
yang umumnya sumber modal tersebut mengenakan tingkat bunga yang irrasional karena
terlalu tinggi dan mengikat. Kondisi demikian berdampak buruk tidak saja bagi petani
akan tetapi juga merusak tatanan perekonomian di pedesaan. Berkenaan dengan hal
tersebut, keberadaan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) pertanian akan menjadi salah
satu solusinya. LKM pertanian memiliki
peran strategis sebagai intermediasi dalam aktifitas perekonomian bagi
masyarakat tani yang selama ini tidak
terjangkau jasa pelayanan lembaga perbankan umum/bank konvensional. Di lingkungan masyarakat, telah banyak LKM yang
menyediakan skim kredit dengan pola yang
beragam, namun umumnya bergerak dalam fasilitasi pembiayaan bagi usaha-usaha
ekonomi non pertanian. Oleh karena itu muncul persoalan: (a) sejauhmanakah keberadaan
LKM di lingkungan masyarakat pedesaan mampu menjalankan perannya dalam fasilitasi pembiayaan usahatani? (b) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi keberlanjutan
LKM tersebut dan (c) Bagaimanakah strategi pengembangan LKM ke depan yang
efektif untuk mendukung usahatani? Makalah bertujuan membahas fenomena LKM dan
perspektifnya dalam pembangunan ekonomi pedesaan dengan fokus pada adopsi
inovasi pertanian, serta mengungkap
faktor-faktor kritis keberhasilan LKM dan menyusun strategi pengembangan LKM ke
depan untuk mendukung kegiatan usaha tani. Hasil pembahasan akan berguna selain
untuk melengkapi wacana LKM yang sudah ada, juga menjadi bahan masukan dalam
penyusunan kebijakan terkait pembangunan ekonomi pedesaan ke depan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar