Agency Theory
(Manajemen Laba)
Pengertian
Manajemen Laba
Teori keagenan (agency
theory) standar akuntansi
yang ditetapkan oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) mengijinkan pihak manajemen
untuk mengambil suatu kebijakan dalam mengaplikasikan metode akuntansi guna
menyampaikan informasi mengenai kinerja perusahaan kepada pihak ekstern.
Pemberian fleksibilitas bagi manajemen untuk memilih satu dari seperangkat
kebijakan akuntansi membuka peluang untuk perilaku oportunis dan kontrak
efisien. Artinya, manajer
yang rasional, akan memilih
kebijakan akuntansi yang sesuai dengan kepentingannya. Dengan kata lain,
manajer memilih kebijakan akuntansi yang dapat memaksimalkan expected
utility-nya dan atau nilai pasar perusahaan. Perilaku oportunis dan kontrak
efisien ini, mendorong manajer untuk melakukan manajemen laba.
Scott (2006: 344) mendefinisikan manajemen
laba sebagai berikut: manajemen laba merupakan pemilihan kebijakan akuntansi
oleh manajer dari Standar Akuntansi Keuangan yang ada dan secara alamiah dapat
memaksimalkan utilitas mereka dan atau nilai pasar perusahaan. Manajemen laba
menurut Mulford dan Comiskey (2002), merupakan financial numbers game
(permainan angka–angka keuangan) yang dilakukan melalui creative accounting
practises akibat adanya kelonggaran flexibility principles yang
dikeluarkan oleh GAAP (General Accepted Accounting Principal).
Manajemen laba
merupakan topik yang menarik, baik bagi peneliti akuntansi maupun praktisi. Fenomena manajemen laba juga telah meramaikan dunia bisnis dan pemberitaan
pers. Beberapa bukti empiris dan sistematik telah menunjukkan adanya fenomena
manajemen laba ini, diantaranya Gu dan Lee (1999), De Angelo (1988), Holthausen
dan Sloan (1995), dan lain-lain. Secara khusus, Gu dan Lee (1999) telah
menunjukkan bahwa manajemen laba telah meluas dan ada di setiap pelaporan
keuangan yang disampaikan oleh perusahaan. Mereka memberikan suatu bukti bahwa
manajemen laba terjadi di setiap laporan keuangan kuartalan, dan tingkat
manajemen laba terbesar ditemukan pada kuartal ketiga. Ini menunjukkan bahwa
praktik manajemen laba merupakan suatu fenomena yang umum terjadi, tidak hanya
pada peristiwa-peristiwa tertentu saja tetapi telah sedemikian mengakar dalam
kehidupan bisnis.
Penelitian-penelitian mengenai manajemen laba menunjukkan bahwa
penggunaan discretionary accrual menyebabkan terjadinya kesalahan dalam
prediksi manajemen laba (Bernard dan Skinner, 1996). Kesalahan tersebut
disebabkan oleh kesulitan pengklasifikasian akrual total kedalam bentuk discretionary
accrual dan non-discretionary accrual, sehingga penggunaan model
akrual menjadi kurang tepat
dan mengalami kesulitan (Aljifri, 2007). Dechow (1995)
menguji lima model akrual dan menemukan bukti bahwa tidak ada di antara kelima
model tersebut yang benar-benar tepat untuk mendeteksi manajemen laba.
Kesalahan memprediksikan dilakukan atau tidaknya manajemen laba, menyebabkan
kesalahan dalam menilai kualitas laba perusahaan sehingga menyebabkan bias
dalam penilaian kinerja perusahaan. Penelitian Algharaballi dkk. (2008) juga
menguji kekhususan dan kekuatan empat model untuk mendeteksi manajemen laba.
Hasilnya adalah model Jones merupakan model yang mempunyai kekuatan tertinggi
dalam mendeteksi kenaikan laba yang disebabkan manipulasi akrual.
Beberapa peneliti mencoba mengatasi kelemahan model akrual dengan
mencari faktor alternatif yang dapat digunakan untuk mendeteksi manajemen laba.
Penelitian baru-baru ini menginvestigasi perbedaan antara laba akuntansi dan
laba fiskal (book-tax differences) sebagai indikator manajemen laba
(Mills dan Newberry, 2001; Phillips dkk., 2003; Ratmono, 2004; Yuliati,
2004). Penelitian-penelitian tersebut didasari oleh literatur akuntansi
keuangan yang menegaskan bahwa book-tax differences dapat memberikan
informasi tentang laba berjalan (current earnings). Logika yang
mendasarinya adalah sedikitnya kebebasan yang diperbolehkan dalam pengukuran
laba fiskal, menyebabkan book-tax differences memberikan informasi
tentang management discretion dan proses akrual. Mills dan Newberry (2001) dan Phillips dkk. (2003) berpendapat bahwa
para manajer mempunyai banyak kebebasan dalam pelaporan keuangan dibanding
pelaporan pajak, dan dapat memanfaatkan kebebasannya tersebut untuk menaikkan
laba akuntansi dengan suatu cara tertentu tanpa menaikkan laba fiskal. Yuliati
(2004) menemukan bahwa kedua pengukur manajemen laba (akrual dan beban pajak
tangguhan) memiliki pengaruh yang positif dan signifikan terhadap probabilitas
perusahaan melakukan manajemen laba untuk menghindari kerugian.
Fenomena manajemen laba merupakan topik yang telah lama muncul baik
dalam dunia akademik maupun bisnis. Penelitian De Angelo (1988), Holthausen dan
Sloan (1995) menunjukkan bahwa manajemen
laba telah meluas dan ada dalam setiap pelaporan keuangan yang disampaikan oleh
perusahaan. Mereka memberikan bukti empiris bahwa manajemen laba ada dalam
setiap laporan keuangan kuartalan dan tingkat manajemen laba yang terbesar
ditemukan pada kuartal ketiga.
Faktor-faktor pendorong manajemen laba
Dalam Positif
Accounting Theory terdapat tiga faktor pendorong yang melatarbelakangi
terjadinya manajemen laba (Watt dan Zimmerman, 1986), yaitu:
1.
Bonus Plan Hypothesis
Manajemen akan
memilih metode akuntansi yang memaksimalkan utilitasnya yaitu bonus yang
tinggi. Manajer perusahaan yang memberikan bonus besar berdasarkan laba lebih
banyak menggunakan metode akuntansi yang meningkatkan laba yang dilaporkan.
2.
Debt Covenant Hypothesis
Manajer
perusahaan yang melakukan pelanggaran perjanjian kredit cenderung memilih
metode akuntansi yang memiliki dampak meningkatkan laba (Sweeney, 1994 dalam
Rahmawati dkk, (2006). Hal ini untuk menjaga reputasi mereka dalam pandangan
pihak eksternal.
3.
Political Cost Hypothesis
Semakin besar
perusahaan, semakin besar pula kemungkinan perusahaan tersebut memilih metode
akuntansi yang menurunkan laba. Hal tersebut dikarenakan dengan laba yang
tinggi pemerintah akan segera mengambil tindakan, misalnya: mengenakan
peraturan antitrust, menaikkan pajak pendapatan perusahaan, dan lain-lain.
Sumber :
http://pustakabakul.blogspot.com/2013/06/konsep-dan-pengertian-manajemen-laba.html
Tidak ada komentar:
Posting Komentar